Minggu, 31 Desember 2017

Nasehat Buat Pengusaha, Simak Kisah Bangkit Dari Keterpurukan Hutang 6,8 Milyar Ini




AnjrahWeb.Com – Saya share Kisah Bangkit Dari Keterpurukan Hutang 6,8 M dari sahabat saya. Bukan maksud buat nakut nakutin orang untuk wirausaha. Sama sekali tidak.
Tapi justru kisah bangkit dari keterpurukan ekonomi ini saya harapkan bisa menjadi bahan pelajaran bagaimana kita harus bersikap. Walau sudah saya singgung juga saat bahas kepribadian yang harus di miliki pengusaha dan kiat simpel manajemen uang pengusaha yang baru lalu.

Gak Pake Lama, ayo Simak Kisah Bangkit Dari Keterpurukan Hutang ya, ini saya copas dari facebook saya:

Area sini (tempat awal main saya ke Event Book Fair di Goro Assalam), Aslinya Area ‘Berat (ada kenangan lah disini ehem ehem)’ untuk ku datangi. Tapi niat kepalang tanggung kudu belajar. Akhirnya berangkat juga.
Nyata Kisah Bangkit Dari Keterpurukan Hutang Milyaran
Intinya Setelah memaksakan diri dan ketemu pengusaha ini, Masya Allah betapa diri ini kurang syukur sekali.
Saya dan Pak Haryanto Bilal Zainul M ibarat ditampar bolak balik sama beliau, bukan bab ilmu sulit sulit. Tapi bab ilmu tawakal.
Kenapa saya katakan ‘bukan ilmu sulit sulit’?
Pengusaha ini bilang, “tawakal itu kalau kamu apa apa masih ada. Itu bukan tawakal. Bilang tawakal mobil ada, beras masih punya, rumah ada, tanah ada. enteng di ucapkan dilidah, tapi menjalankannya ..”
Coba Anda bayangkan ‘kelas tawakal’ beliau ketika dimana semua aset, semua rumah rumah, semua ruko ruko, semua mobil sudah di jual masih aja minus 6,8 milyar.
Sudah 5 tahun ‘gak bisa bayar zakat’, mau bayar gimana wong beliau lebih miskin dari orang miskin. Minus milyaran.
Kok bisa bangkrut habis habisan? Padahal awalnya tiap malam minggu dua tas tenis isi uang semua di bawa kerumah? mobil range rover gak cuman punya satu buat bawa itu duit. Kisahnya panjang..

Namun setelah ‘negara api’ menyerang…

Dan dia amati pola kebangkrutan dia, mirip apa yg nanti ada di tahun 2018. Dimana semua utang negara akan menumpuk. Kena tagih, pasti akan buanyaak pengusaha yang kolaps, seperti waktu itu menimpa dirinya.
Ah tapi bukan itu yg Sy tertarik. Namun ya pelajaran tawakal hadapi semua itu. Juga istrinya yg support habis habisan di kala ‘semua udah nggak ada’ dengan mengatakan, “kita masih punya Allah”.
Berkaca kaca Sy nyimak tiap bait wedjangan beliau. Amat terasa berat urusan hijrah dari riba yg beliau alami.
Mungkin kapan waktu, secara private, beliau ini tak undang di kelas PCG. Khusus alumni PCG boleh ikutan. Agar berbagi inspirasi. Karena hikmahnya demikian dalam bagi pengusaha muda kayak kita kita ini.
Pagi ini, hati saya masih gemetaran ketika mengingat apa yg beliau ceritakan beserta tiap bulan miracle pertolongan Allah yg beliau terima. Hal yg tak masuk akal, sungguh tapi Allah itu dekat, Allah Maha Kaya real bener itu adanya.
Resapi Coba, kita dengar omset kita turun aja kelabakan luar biasa. Kita lihat facebook ads kita panelnya ‘nggak sesuai’ rumusan aja dah kayak ‘nggak ada’ pertolongan Allah disitu.
Tapi, bagi beliau ini. Pertolongan Allah di kala diri itu beneran hanya dirinya dan ALLAH saja yg mampu menolong. Ini pebisnis level ‘dewa’ ‘tawakalnya’ yang bisa begini.
Saya dah minta dia bukukan, di blog kan, atau apalah. Karena sungguh, dibalik ketegaran dia, ‘ilmunya banyak’.
Yang saya salut. Dia nggak pernah ‘ngeluh’ sama temen temennya bab ini.
Hanya karena saya sama pak bilal kasih beberapa masukan-masukan ke bisnis beliau, “Bro, aku liat bisnismu yang ini itu aslinya bagus, tapi mbok ini dan itunya di ginikan dan digitukan (saling nasehat menasehati dalam kebaikan sesama pebisnis itu wajib) bisa jadi malah kemudian obrolan jadi panjang lebar ‘dan ilmu ini pun’ dibagikan kepada kami. Masya Allah”.

Aku kemudian berpikir Apa Hikmah kisah bangkit dari keterpurukan ekonomi dari beliau ini?

Aslinya ada banyak hikmah Kisah Bangkit Dari Keterpurukan Hutang ini, tapi coba saya kupas pakai point point ini ya:
  1. Ada pengusaha yang di uji dengan omset, segitu segitu aja, kayak nambah enggak, turun enggak, naik enggak, nggak besar besar amat juga. tapi dia dan keluarga baik baik saja bahagia, tanpa utang.
  2. Ada pengusaha yg di uji dengan cepat melesat bisnisnya, cash flownya uedyan nggak karuan, tapi ditengah jalan uang numpang lewat sama sekali nggak bisa dia rasakan. tidur nggak nyenyak, habis itu ngangsurnya pusing nggak karuan.
  3. Ada yang di uji dengan lambat, santai, tapi growth terus. Tinggal syukur atau enggak atas nikmat yang Allah kasih ini. Kalau enggak syukur dan ‘tahu diri’, sewaktu waktu nikmat itu bisa Allah cabut tanpa ‘permisi’.
  4. Ada yang di uji, modal kuat, kemauan kuat, ilmunya nggak akurat. Bisnis apapun nggak jadi jadi.
  5. Ada yang segalanya beres, kecuali dia belum juga dapat tim yang amanah. So enggak jalan jalan.
  6. Peran istri, keluarga mendukung keterpurukan suami. Jadi energi tersendiri bagi dirinya bangkit tak kenal nyerah.
  7. Jangan jumawa dengan keberhasilan, sewaktu waktu pengusaha juga bisa jatuh gagal.
Rejeki, ilmunya emang luar biasa. Masya Allah. Makasih Bro, Makasih udah sharing. Masya Allah.. sangat luar biasa. Lima tahun (dan sampai hari ini masih berjuang, masih kadang enggak kebayang cicilan sebanyak itu mau dari mana uangnya, karena udah pada dijualin, ya walau masih ada unit bisnis beberapa yg jalan sebagai penopang) saya yakin Allah kasih banyak karunia di kemudian hari. Nggak ada yg sia sia dalam kamus Allah subhanahu wata’ala.
NB1. Gak usah tanya siapanya, gak usah nebak nebak juga. orangnya tegar banget. Saya nggak mengira ini orang dekat saya, saya pikir everything is Oke. Jebul, setegar ini, jebul dia setegar ini, hadapi pukulan yg amat sangat dahsyat begini.
NB2. Namun sungguh salut banget dengan mutiara ilmu yg diberikan ke saya malam kemarin. Isi status ini juga bukan untuk didebatkan, tapi diresapi dan diambil hikmahnya. Saya salut banget dengan dirinya.
Kisah Kisah Bangkit Dari Keterpurukan Hutang 6,8 Milyar ini, beliau cerita sendiri ke saya (anjrah ari susanto), bukan fiksi. Ada beberapa mungkin salah data dikit kisah pengusaha terlilit hutang ini karena ingatan saya terbatas, semoga tak mengurangi esensinya secara totalnya ya. Sharekan kisah ini ke sosmed anda, semoga jadi sarana pencerahan bagi yang lain.

 https://www.anjrahweb.com/bisnis-online/kisah-bangkit-dari-keterpurukan-hutang/

Pertolongan Allah Amatlah Dekat

Budi Setiadi
Penulis Buku “Menembus Batas”
Anda tidak akan menyangka bahwa pegawai HPPK Pasar Klewer yang setiap hari bekerja menarik iuran dari pedagang di Pasar Klewer ini mampu mengantarkan anak pertama lulus dari Teknik Nuklir UGM dalam waktu kurang dari 4 tahun. Bahkan kini anaknya melanjutkan S2 di Jerman. Allahu Akbar!!! Dua anak lainnya mengikuti jejak sang kakak, saat ini sedang kuliah di ITB dan UGM.
Di rumahnya yang sempit di bantaran sungai Bengawan Solo itulah, Pak Budi dan istrinya berusaha keras mengantarkan mereka meraih cita-citanya. Jalan hidup tak begitu saja mudah baginya. Perjuangan saat menjadi mualaf, diusir dari kampung usai menikah, sampai saat istri divonis sakit di bagian otak dan usahanya bangkrut. Bagaimana Pak Budi sukses melalui berbagai ujian hidup dan tetap istiqamah? Simak penuturannya berikut.
Bagaimana dulu Bapak masuk Islam?
Tahun 1980, ketika mabuk berat saya lihat ada pengajian di masjid yang ngisi Kyai Slamet Iskandar. Ceramahnya tentang surat Al-Ma’un. Waktu itu mengesankan sekali bagi saya. Mulai saat itulah saya belajar Islam. Setelah keluarga tahu, mereka marah besar. Saya putuskan pergi dari rumah dalam kondisi fisik terluka, namun hati saya justru merasa tenteram. Saya tidur di masjid, pindah-pindah. Seorang takmir masjid memberikan saya baju karena waktu itu saya tidak membawa sepotong bajupun selain yang menempel di badan. Saya terus belajar dari kyai dan ulama di situ.
Setahun saya lancar membaca kitab kuning. Sampai saya dipercaya menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah. Tetapi kemudian saya mengundurkan diri karena pihak keluarga mencari-cari saya dan saya khawatir berpengaruh buruk bagi organisasi. Saya merantau keluar kota, menghindari hal yang tidak diinginkan.

Saat menikah dengan istri Bapak, apa yang terjadi sampai diusir dari kampung?

Waktu itu hanya istri saya yang memakai jilbab di kampungnya, daerah Klaten. Saat itu tentu luar biasa sekali, karena jilbab masih dianggap asing. Ketika menikah, menurut adat setempat pasangan pengantin harus mengitari punden, saya menolak karena itu termasuk syirik. Karena warga tidak suka kemudian mengusir saya dan istri dari kampung. Sampai di bantaran Bengawan Solo kami menyewa sebuah rumah kecil. Waktu itu kami belum punya apa-apa. Untuk masak saja dipinjami tungku bekas jualan bakso. Belum seminggu kami sudah mendapat cobaan lagi. Uang kontrakan yang sedianya bisa dicicil setelah saya dapat pekerjaan tiba-tiba diminta dengan sangat kasar. Kalau ingat semua itu rasanya sakit sekali. Alhamdulillah setelah shalat malam dan mengadu kepada Allah, paginya ada jalan keluar. Tak hanya uang sewa rumah yang bisa saya bayarkan, bahkan dengan rezeki pagi itu saya bisa membeli perkakas rumah tangga, baju baru untuk istri, dan beberapa buku agama. Rasanya senang sekali.

Bagaimana awal mula Bapak bekerja di Pasar Klewer?
Asal mulanya ya karena kepepet. Usaha saya nggak berjalan mulus. Setelah ayam potong saya sudah coba jualan roti, juga nggak bisa bagus. Dalam keterpurukan muncul pikiran pinjam uang teman Rp. 5.000 untuk jualan rafia di pasar Klewer. Kemudian sedikit demi sedikit saya niatkan agar lebih berkembang lagi. Selain jualan di Pasar Klewer, saya juga keliling ke daerah Gemolong, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo. Waktu itu naik sepeda onthel, ya cuma jualan rafia itu. Dan waktu itu saya niatkan sarapan setelah ada yang laku. Sampai pernah suatu ketika ke Sragen sampai sore jam 4 belum laku sama sekali. Pas sampai di pasar Palur Alhamdulillah laku semua, diborong oleh orang situ. Langsung saja saya cari warung makan dan pesan makanan. Alhamdulillah rasanya enak sekali, soalnya dari pagi cuma minum air kran.

Istri Bapak sakit, bisa diceritakan tentang sakitnya dan bagaimana Bapak menghadapi ujian tersebut?
Mungkin ini peringatan dari Allah swt. Saat itu saya sudah lumayan sukses. Usaha rafia saya sudah maju dan berkembang. Allah menegur saya dengan mengirim penyakit untuk istri saya, di otaknya ada lima virus mematikan yang menyerang. Tahun 1993/1995 semua harta saya ludes untuk biaya berobat, dalam tiga hari diperlukan biaya 2 juta. Usaha saya pun akhirnya jatuh. Dalam keadaan tersebut dokter memvonis umur istri saya tidak lebih dari dua minggu lagi. Tetapi saya tidak terima.
Waktu itu saya katakan pada dokter tersebut, bahwa yang berhak menentukan hidup mati manusia hanya Allah swt. kembali saya berpasrah kepada Allah swt. Dan benar istri saya sampai sekarang masih hidup dan tampak lebih sehat. Allah sendiri yang kirimkan obatnya. Sebuah artikel di lembaran yang tertiup angin beberapa kali jatuh di muka saya sampai akhirnya saya baca dan saya praktikkan untuk mengobati istri saya. Alhamdulillah berhasil. Sampai sekarang istri saya masih terus mengonsumsi bawang putih.

Soal menyekolahkan anak sampai lulus UGM bagaimana ceritanya Pak?
Saya hanya berusaha mendidik mereka, mengarahkan sesuai bakat mereka saja. Selebihnya semua adalah pertolongan Allah. Seperti ada orang habis Subuh mengetuk pintu dan menyerahkan amplop, katanya titipan buat saya. Saya buka ternyata isinya uang. Saya cari orang yang ngasih eh sudah hilang. Juga dipertemukan dengan panitia seleksi masuk yang cukup banyak membantu anak saya. Banyaklah kemudahan dari Allah. Saya pesan ke anak saya waktu itu, niatnya yang ikhlas untuk sekolah, pasti Allah berikan jalannya.

Apa hikmah yang Bapak petik dari perjalanan hidup Bapak selama ini?
Alhamdulillah, selama ini kita tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sesulit apapun hidup kita, bagaimana menderitanya kita, asal selalu kembali kepada Allah pasti akan ada jalan keluarnya. fainna ma’al ‘ushri yusro, innama’al ‘ushri yusro, bersama kesulitan akan ada kemudahan dan Allah swt sebutkan itu dua kali berturut-turut. Asal kita ikhlas, tawakal, dan terus memanjatkan doa, insya Allah pertolongan Allah itu amat dekat. Yakinlah. (If)
(majalah.nurhidayahsolo.com)


 http://www.fadhilza.com/2012/02/kehidupan-manusia/pertolongan-allah-amatlah-dekat.html

KISAH : Heppy Trenggono, Ubah Keterpurukan Jadi Kesuksesan (Part 1)

Sabtu, 26 Januari 2013


Dalam belitan hutang Rp 62 miliar, Heppy Trenggono bukannya mengencangkan ikat pinggang, Ia justru membuat program berderma kepada sesama. Tak ayal keputusan ini menimbulkan perpecahan manajemen yang meruncing. Namun tanpa diduga, Ia akhirnya mampu melunasi hutang tersebut bahkan berhasil menghidupkan kembali usahanya yang sudah terpuruk.

Awalnya Heppy Trenggono adalah seorang profesional di bidang teknologi informasi (IT). Berbekal latar belakangnya tersebut, ia sempat menjadi salah satu karyawan di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta pada kurun 1992 dengan posisi yang cukup lumayan bagus.

Sebagai anak muda yang menyukai tantangan, Heppy merasa kariernya di dunia pertelevisian tersebut tidak bisa berkembang hingga ia pun mengambil keputusan yang berani yaitu berhenti dari pekerjaan dan memilih untuk berusaha sendiri.

Di tahun 1994, Heppy memulai usahanya di bidang jasa kontraktor kelapa sawit. Baginya bisnis ini bukanlah hal baru mengingat kakaknya juga berbisnis yang sama dan cukup sukses pada waktu itu sehingga ia pun semakin mantap menerjuni usaha tersebut .Bahkan sejak masih berstatus pegawai, ia sejatinya sudah merintis kecil-kecilan usaha kontraktor kelapa sawit ini meski tidak fokus mengerjakannya.

Perlahan tapi pasti usahanya berkembang hingga membuat Bank Niaga mau mengucurkan kredit untuk  keperluan ekspansi usaha.  Melalui kredit tersebut ia akhirnya bisa memiliki beberapa alat berat yang berguna demi mendukung roda usaha bisnisnya tesebut.

Sebuah badai pun mengancam perusahaannya di tahun 2004. Kala itu Bank Niaga menyatakan bahwa perusahaan kontraktor kelapa sawit ini pailit dan memiliki hutang sebesar Rp 63 miliar. Sejak saat itu kehidupannya pun berubah.

Demi menutup utang tersebut ia sempat berpikir untuk menjual semua aset usahanya hingga habis tidak tersisa. Namun tetap tidak sanggup untuk menutup semua hutang-hutang tersebut sampai lunas.

Dalam kondisi yang terpuruk, Heppy mencoba berpikir keras bagaimana caranya supaya terlepas dari belitan hutang yang besar tersebut. Selain itu ia pun tetap harus memikirkan masa depan dirinya dan keluarganya setelah bisnisnya bangkrut.

Akhirnya dengan tabungan sebesar Rp 1 miliar ia mencoba bertahan sambil tetap membayar cicilan hutang kepada bank. Namun dalam situasi sulit, Heppy malah membuat keputusan yang kontroversi di lingkungan perusahaannya tersebut. Ia justru menyisihkan tabungan itu untuk berderma kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Alasannya adalah dengan dana Rp 1 miliar pun tetap tidak akan cukup untuk menutup hutang. Ia merasa dengan keputusan berderma tersebut dirinya akan mendapatkan pengalaman hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat. Hati menjadi lebih hidup dan terang karena memikirkan kepedulian terhadap sesama. Ia juga yakin dengan jalan ini maka pertolongan Tuhan akan segera hadir untuk menyelesaikan semua hutangnya itu.

Namun demikian, keputusan yang berisiko itu pada akhirnya menimbulkan konflik manajemen yang cukup panas hingga membuat beberapa orang memilih mengundurkan diri. Namun sekali lagi Heppy tetap tegar dan percaya bahwa jalan yang ditempuhnya ini benar dan lebih mendamaikan.

Seiring berjalannya waktu, Heppy mulai mencari-cari apa yang bisa dikembangkan demi masa depan tersebut. Ia pun mulai melihat bahwa satu-satunya jalan yang bisa membuat kehidupannya lebih baik adalah dengan menekuni usaha kelapa sawit. Pilihan untuk menekuni kelapa sawit tentu berdasarkan proses perenungan yang panjang dan matang serta kekuatan feeling sebagai seorang pebisnis.

Setidaknya ada tiga alasan kenapa ia harus menekuni bisnis kelapa sawit. Pertama karena sejak berbisnis jasa kontraktor ia secara langsung juga memahami seluk beluk industri kelapa sawit. Kedua adalah munculnya dorongan dari para kolega dan konsumennya agar terjun di industri tersebut sambil mencari investor yang mau mengembangkan bisnis kelapa sawit. Ketiga, dirinya sudah tidak bisa mengajukan kredit ke bank lain karena hutangnya belum lunas.

Berbekal pengalaman yang dimilikinya, Heppy lantas memulai usaha barunya itu di tahun 2006. Ia pun berhasil menggandeng  beberapa investor untuk bekerja sama membuat proyek-proyek kelapa sawit.

Sejak saat itu usahanya kian bertambah pesat. Bahkan usaha kontraktornya yang bangkrut berhasil dihidupkan kembali. Ia juga mengakuisisi perusahaan sebagai bagian dari strategi ekspansi usaha. Dengan aksi itu, Heppy menjual kembali sebagian saham sehingga mendapatkan keuntungan. Dari bisnis kelapa sawit ini Heppy mulai melunasi semua hutangnya di bank

Sebenarnya apa yang menjadi kunci kesuksesan Heppy dalam membayar lunas hutangnya itu? Jawabnya adalah bukan pada kebijakan berbagi kepada sesama karena kebijakan itu hanyalah bagian kecil dari sebuah pemahaman baru yang didapat oleh Heppy dalam mengelola kehidupan barunya tersebut.

Sejatinya ia berhasil mengubah mindset untuk lebih mengikuti feelingnya dalam berbisnis ketimbang mengikuti pikiran dan nafsu berbisnisnya. Dengan mengikuti feelingnya itu ia akan mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perusahaan dan juga kehidupan agar lebih bermakna dan bermanfaat bagi banyak orang. 

Keberhasilannya mengubah mindset tersebut membuat ia semakin peduli dengan para staffnya. Ia berusaha untuk membuat seseorang merasa nyaman dan tidak tertekan saat berinteraksi dengannya. Setelah berhasil membuat nyaman maka ia pun bisa mulai mengarahkan para staffnya untuk mencapai tujuan dan target perusahaan yang sudah ditetapkan.

Tidak berhenti sampai disitu, Heppy juga secara berkesinambungan terus menekankan betapa pentingnya tanggungjawab pekerjaan yang diemban oleh para staffnya tersebut. Ia pun selalu memberikan motivasi agar staffnya  itu mau melakukan pekerjaan dengan hati dan penuh kesadaran.

Dan sejak mengembangkan metode tersebut, Heppy turut pula merasakan dampak positif. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih tenang dalam menjalani hidup, dan tidak panik serta kuatir saat menghadapi tantangan yang muncul di hadapan. Ia selalu yakin bahwa setiap persoalan selalu ada jalan keluar asalkan seseorang tetap berada dalam keimanannya kepada Tuhan.

Hal ini sangat berbanding terbalik manakala ia masih memimpin usaha kontraktornya itu. Kala itu ia mudah tersulut emosi, buru-buru dalam mengambil keputusan, mudah tersinggung dan marah bila berinteraksi dengan orang lain. Ia pun sering merasa kalau usahanya hanya segini-gini aja tidak merasakan suatu kemajuan yang berarti.
Selain berdampak positif bagi perubahan sikap pada diri seorang Heppy, ternyata juga menimbulkan efek positif bagi para staffnya. Mereka menjadi lebih terbuka satu sama lain bahkan terbuka dengan persoalan-persoalan keluarga.  Staff baru juga menjadi tidak merasa asing saat berada di lingkungan perusahaan dan lebih diterima sebagai bagian dari keluarga besar perusahaan.

Salah satu contohnya adalah pada saat salah seorang sopirnya harus pulang cepat, padahal saat itu Heppy memintanya untuk mengantar ke sebuah acara di malam hari. Dengan terus terang sang sopir berkata bahwa ia tidak bisa mengantarnya karena di rumah sedang ada pengajian dan mengumpulkan anak yatim. Heppy pun merasa tidak keberatan bahkan malah mengizinkan sopir tersebut untuk pulang kerumah lebih awal dari biasanya.

Saat ini Heppy kian mantap menjalani kehidupannya yang semakin damai dan terarah. Perlahan ia juga sedang membangun karakter para staffnya tersebut dalam konsep-konsep yang bisa diterima seperti kerja keras, cara menjual dan menghargai satu sama lain.

Ia juga sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin di level bawah di perusahaan. Tidak hanya itu saja, Heppy juga mengembangkan sikap entrepreneurship kepada para staffnya dengan menekankan pada kehidupan spiritual yang matang sehingga mereka memiliki bekal yang cukup untuk dibawa pulang di akhirat kelak. (asm)

Mulanya Dililit Utang, Akhirnya Jadi Triliuner



Masih terbayang di benak saya  peristiwa tahun 2006 saat  ia mengikuti Public Training Kubik Leadership. Di hari ketiga, pada akhir sesi, ia dengan lantang mendeklarasikan, “Dalam waktu lima tahun saya akan punya bisnis dengan aset satu triliun!” Sebuah impian yang oleh sebagian orang dianggap mustahil, apalagi ketika itu ia sedang terlilit hutang Rp 62 miliar.

Heppy Trenggono, orang yang sedang saya ceritakan ini, mengawali bisnis besarnya di alat berat. Awalnya begitu bersinar.  Sayang, ekspansinya kebablasan sehingga ia terlilit hutang, 400-an karyawannya bubar dengan membawa aset perusahaan. Hartanya terkuras habis dan ia menanggung hutang Rp62 milyar lebih.
Kegagalan itu memberinya pelajaran yang berarti. Ia tinggalkan bisnis alat berat dan beralih ke agribisnis.
Dengan bendera Balimuda, lelaki kelahiran 20 April 1967 ini, kini mengelola 80 ribu hektar lahan dengan total investasi Rp 4 triliun, tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Hutangnyapun sudah tidak menjadi beban hidupnya. Lebih dari 3000 orang menjadi karyawannya.
Bisnis sahabat sekaligus guru saya ini semakin moncer. Di bawah bendera United Balimuda Corp  miliknya ia mengelola 12 perusahaan.
Dibalik sukses bisnisnya, kehidupan sosialnya pun luar biasa. Setiap pagi ia memberi sarapan kepada orang yang kurang mampu di sekitar rumahnya di Jl. Mampang, Jakarta Selatan. “Kita jangan sejahtera sendirian, kita harus mensejahterakan orang lain,” ucapnya suatu ketika.
Bukan hanya itu, pria asal Batang Jawa Tengah ini juga menunjukkan kepeduliannya terhadap kemajuan dan kemandirian bangsa dengan membentuk komunitas Indonesia Islamic Business Forum (IIBF). Melalui forum yang beranggotakan pengusaha dan calon pengusaha ini ia berbagi pengalaman sekaligus memberikan pendampingan bisnis. Setiap hari kantornya didatangi para pengusaha yang ingin konsultasi bisnis.
Aksi nyata lainnya ia tunjukkan dengan menggagas Gerakan Beli Indonesia, 27 Februari 2011. Melalui gerakan ini ia mendorong anak bangsa agar membeli produk bangsa sendiri. “Karakter bangsa harus dibangun dengan mental ini,” tegasnya.
Saya bahagia bisa mengenal sosok Heppy Trenggono. Kekuatan mimpinya untuk memiliki usaha dengan aset Rp 1 triliun tanpa hutang tercapai, bahkan ia kini jauh melebihi impiannya.  Setelah sukses ia tak lupa untuk mengangkat harkat dan martabat orang lain dan bangsanya. Menurut saya, itulah kehidupan terbaiknya, kehidupan SuksesMulia…
Salam SuksesMulia!

 http://www.jamilazzaini.com/mulanya-dililit-utang-akhirnya-jadi-triliuner/

Dewa Eka Prayoga Bangkit setelah Bangkrut Total

Ditulis pada: 3 December 2014 | Kategori: Artikel Bisnis Rugi Rp7,7 Miliar, Kini Jadi Business Coach Di kalangan pengusaha muda, ...