Budi Setiadi
Penulis Buku “Menembus Batas”
Anda tidak akan menyangka bahwa pegawai HPPK Pasar Klewer yang setiap
hari bekerja menarik iuran dari pedagang di Pasar Klewer ini mampu
mengantarkan anak pertama lulus dari Teknik Nuklir UGM dalam waktu
kurang dari 4 tahun. Bahkan kini anaknya melanjutkan S2 di Jerman.
Allahu Akbar!!! Dua anak lainnya mengikuti jejak sang kakak, saat ini
sedang kuliah di ITB dan UGM.Penulis Buku “Menembus Batas”
Di
rumahnya yang sempit di bantaran sungai Bengawan Solo itulah, Pak Budi
dan istrinya berusaha keras mengantarkan mereka meraih cita-citanya.
Jalan hidup tak begitu saja mudah baginya. Perjuangan saat menjadi
mualaf, diusir dari kampung usai menikah, sampai saat istri divonis
sakit di bagian otak dan usahanya bangkrut. Bagaimana Pak Budi sukses
melalui berbagai ujian hidup dan tetap istiqamah? Simak penuturannya
berikut.
Bagaimana dulu Bapak masuk Islam?
Tahun 1980, ketika mabuk berat saya lihat ada pengajian di masjid yang ngisi Kyai Slamet Iskandar. Ceramahnya tentang surat Al-Ma’un. Waktu itu mengesankan sekali bagi saya. Mulai saat itulah saya belajar Islam. Setelah keluarga tahu, mereka marah besar. Saya putuskan pergi dari rumah dalam kondisi fisik terluka, namun hati saya justru merasa tenteram. Saya tidur di masjid, pindah-pindah. Seorang takmir masjid memberikan saya baju karena waktu itu saya tidak membawa sepotong bajupun selain yang menempel di badan. Saya terus belajar dari kyai dan ulama di situ.
Tahun 1980, ketika mabuk berat saya lihat ada pengajian di masjid yang ngisi Kyai Slamet Iskandar. Ceramahnya tentang surat Al-Ma’un. Waktu itu mengesankan sekali bagi saya. Mulai saat itulah saya belajar Islam. Setelah keluarga tahu, mereka marah besar. Saya putuskan pergi dari rumah dalam kondisi fisik terluka, namun hati saya justru merasa tenteram. Saya tidur di masjid, pindah-pindah. Seorang takmir masjid memberikan saya baju karena waktu itu saya tidak membawa sepotong bajupun selain yang menempel di badan. Saya terus belajar dari kyai dan ulama di situ.
Setahun
saya lancar membaca kitab kuning. Sampai saya dipercaya menjadi ketua
Pemuda Muhammadiyah. Tetapi kemudian saya mengundurkan diri karena pihak
keluarga mencari-cari saya dan saya khawatir berpengaruh buruk bagi
organisasi. Saya merantau keluar kota, menghindari hal yang tidak
diinginkan.
Saat menikah dengan istri Bapak, apa yang terjadi sampai diusir dari kampung?
Waktu itu hanya istri saya yang memakai jilbab di kampungnya, daerah Klaten. Saat itu tentu luar biasa sekali, karena jilbab masih dianggap asing. Ketika menikah, menurut adat setempat pasangan pengantin harus mengitari punden, saya menolak karena itu termasuk syirik. Karena warga tidak suka kemudian mengusir saya dan istri dari kampung. Sampai di bantaran Bengawan Solo kami menyewa sebuah rumah kecil. Waktu itu kami belum punya apa-apa. Untuk masak saja dipinjami tungku bekas jualan bakso. Belum seminggu kami sudah mendapat cobaan lagi. Uang kontrakan yang sedianya bisa dicicil setelah saya dapat pekerjaan tiba-tiba diminta dengan sangat kasar. Kalau ingat semua itu rasanya sakit sekali. Alhamdulillah setelah shalat malam dan mengadu kepada Allah, paginya ada jalan keluar. Tak hanya uang sewa rumah yang bisa saya bayarkan, bahkan dengan rezeki pagi itu saya bisa membeli perkakas rumah tangga, baju baru untuk istri, dan beberapa buku agama. Rasanya senang sekali.
Bagaimana awal mula Bapak bekerja di Pasar Klewer?
Asal mulanya ya karena kepepet. Usaha saya nggak berjalan mulus. Setelah ayam potong saya sudah coba jualan roti, juga nggak bisa bagus. Dalam keterpurukan muncul pikiran pinjam uang teman Rp. 5.000 untuk jualan rafia di pasar Klewer. Kemudian sedikit demi sedikit saya niatkan agar lebih berkembang lagi. Selain jualan di Pasar Klewer, saya juga keliling ke daerah Gemolong, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo. Waktu itu naik sepeda onthel, ya cuma jualan rafia itu. Dan waktu itu saya niatkan sarapan setelah ada yang laku. Sampai pernah suatu ketika ke Sragen sampai sore jam 4 belum laku sama sekali. Pas sampai di pasar Palur Alhamdulillah laku semua, diborong oleh orang situ. Langsung saja saya cari warung makan dan pesan makanan. Alhamdulillah rasanya enak sekali, soalnya dari pagi cuma minum air kran.
Istri Bapak sakit, bisa diceritakan tentang sakitnya dan bagaimana Bapak menghadapi ujian tersebut?
Mungkin ini peringatan dari Allah swt. Saat itu saya sudah lumayan sukses. Usaha rafia saya sudah maju dan berkembang. Allah menegur saya dengan mengirim penyakit untuk istri saya, di otaknya ada lima virus mematikan yang menyerang. Tahun 1993/1995 semua harta saya ludes untuk biaya berobat, dalam tiga hari diperlukan biaya 2 juta. Usaha saya pun akhirnya jatuh. Dalam keadaan tersebut dokter memvonis umur istri saya tidak lebih dari dua minggu lagi. Tetapi saya tidak terima.
Waktu
itu saya katakan pada dokter tersebut, bahwa yang berhak menentukan
hidup mati manusia hanya Allah swt. kembali saya berpasrah kepada Allah
swt. Dan benar istri saya sampai sekarang masih hidup dan tampak lebih
sehat. Allah sendiri yang kirimkan obatnya. Sebuah artikel di lembaran
yang tertiup angin beberapa kali jatuh di muka saya sampai akhirnya saya
baca dan saya praktikkan untuk mengobati istri saya. Alhamdulillah
berhasil. Sampai sekarang istri saya masih terus mengonsumsi bawang
putih.
Soal menyekolahkan anak sampai lulus UGM bagaimana ceritanya Pak?
Saya hanya berusaha mendidik mereka, mengarahkan sesuai bakat mereka saja. Selebihnya semua adalah pertolongan Allah. Seperti ada orang habis Subuh mengetuk pintu dan menyerahkan amplop, katanya titipan buat saya. Saya buka ternyata isinya uang. Saya cari orang yang ngasih eh sudah hilang. Juga dipertemukan dengan panitia seleksi masuk yang cukup banyak membantu anak saya. Banyaklah kemudahan dari Allah. Saya pesan ke anak saya waktu itu, niatnya yang ikhlas untuk sekolah, pasti Allah berikan jalannya.
Apa hikmah yang Bapak petik dari perjalanan hidup Bapak selama ini?
Alhamdulillah, selama ini kita tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sesulit apapun hidup kita, bagaimana menderitanya kita, asal selalu kembali kepada Allah pasti akan ada jalan keluarnya. fainna ma’al ‘ushri yusro, innama’al ‘ushri yusro, bersama kesulitan akan ada kemudahan dan Allah swt sebutkan itu dua kali berturut-turut. Asal kita ikhlas, tawakal, dan terus memanjatkan doa, insya Allah pertolongan Allah itu amat dekat. Yakinlah. (If)
(majalah.nurhidayahsolo.com)
http://www.fadhilza.com/2012/02/kehidupan-manusia/pertolongan-allah-amatlah-dekat.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar